Syalom…..
My name
is Diana Tambunan, SE, MM, lahir
di
Sibolga, 7 Mei 1969. Saat ini berkarier sebagai dosen di Akademi
Sekretari dan Manajemen Bina Sarana Informatika Jakarta. Pada tahun 1988
menamatkan Sekolah Menengah
Atas dari SMAN 29 Jakarta, kemudian pada tahun yang sama di terima di
Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen Universitas Lampung.
Pada Maret 1993 mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi serta pada
Mei 2000 melanjutkan studi pada program Magister
Manajemen konsentrasi Keuangan Fakultas
Ekonomi Universitas Diponegoro dan lulus pada Juli 2002 .
Pada November 1993 mengawali kariernya sebagai karyawati di Badan Akuntansi
Keuangan Negara -Kantor Akuntansi Regional Semarang-Kemenkeu RI,kemudian pada Agustus 1997 dipromosikan menjadi Kasubsi Rekonsiliasi pada Kantor
Akuntansi Reginal Semarang. Pada Maret 1999 dipromosikan sebagai Kepala Seksi
Akuntansi Pusat dan Rekonsiliasi Semarang,
kemudian pada November 2001 dimutasikan sebagai Kepala Sub Bidang Perhitungan
Anggaran Departemen/Lembaga 3 Jakarta, kemudian
pada tahun 2002 dimutasikan ke
KPPN Cilacap, dan pada tahun 2003 dimutasikan ke KPPN Purwokerto.
Pada Juni 2003 hingga Desember 2004 terpilih dan
diangkat sebagai Anggota Komisi
Pemilihan Umum Kabupaten Banyumas pada Divisi Pendaftaran dan Verifikasi Partai
Peserta Pemilu dan Calon Legislatif. Selepas mengabdi pada KPUD Banyumas telah berpindah-pindah ke banyak perusahaan sebagai Finance dan
Accounting yang mana pada akhirnya pada bulan April 2009 memutuskan untuk mengabdikan hidup untuk mencerdaskan anak
bangsa sebagai Dosen di ASM BSI Jakarta berpangkat Asisten Ahli serta mengampu mata kuliah Dasar Akuntansi
& Praktek, Pengantar Manajemen, Manajemen Perkantoran , Service Excellence
dan Admininstrasi Bisnis . Disamping melakukan aktivitas Tri Dharma Perguruan
Tinggi, aktif sebagai Stock Trader Bursa Efek Indonesia.
Best Regards,
Diana Tambunan, SE,MM
Penantian yang penuh harap
Pada hari ini 27 November 2015, tepat dua minggu lamanya hatiku cemas menantikan pengumuman Serdos gelombang kedua , aku sungguh tak sabar menantikannya. Tak ada yang bisa kulakukan selain berdoa dan memohon kepada Tuhan agar diberikan asesor yang baik hati, yang bijaksana dalam memberikan penilaian portofolioku. Aku tahu apapun hasilnya nanti adalah yang terbaik Tuhan berikan kepadaku, sekalipun aku gagal, aku harus siap menerimanya. Aku percaya bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera. Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik, aku sudah membuat deskripsi diri sebaik mungkin dan aku tidak pernah melihat/membaca deskripsi diri orang lain apalagi menirunya, dan aku percaya lembaga/instansiku, teman-teman sejawat serta para mahasiswaku sudah melakukan tugas mereka dengan baik. Aku hanya berharap padamu Tuhan, amin...
Persiapanku Dalam Menghadapi Serdos
Hatiku campur aduk rasanya ketika pada tanggal 6
Oktober 2015 membaca web Kopertis 3 melihat namaku termasuk salah satu
peserta calon DYS tahun 2015 gelombang 2. Bukan karena aku khawatir
tidak lulus melainkan karena membaca di web serdos Dikti pengalaman
rekan -rekan dosen yang gagal serdos yang sungguh sangat menyedihkan
itu membuat perutku langsung mulas dan kepalaku langsung berat seketika.
Dalam hatiku begitu susahkah mengikuti serdos tersebut sehingga
rekan-rekan dosen seluruh Indonesia banyak sekali yang mengulang
berkali-kali bahkan ada yang tiga kali baru lulus serdos . Ketika
kubertanya kepada rekan-rekan dosen mengapa mereka tidak lulus , ada
yang menjawab karena DD dikatakan mirip dan ada juga yang menjawab
karena nilai gabungan yang tidak di atas 4. Mengapa Pemerintah dalam
hal ini Dikti sangat ketat membuat aturan Serdos padahal semua tahu
bahwa gaji Dosen sangat tidak sebanding dengan tugas dan tanggung jawab
dosen. Mengapa pemerintah sangat ketat (baca pelit) dalam memberikan
tunjangan Serdos. Membandingkan dengan teman- teman guru yang Sergu
langsung lulus jarang sekali yang gagal , pemerintah benar-benar pilih
kasih antara guru dan dosen.Penantian yang penuh harap
Pada hari ini 27 November 2015, tepat dua minggu lamanya hatiku cemas menantikan pengumuman Serdos gelombang kedua , aku sungguh tak sabar menantikannya. Tak ada yang bisa kulakukan selain berdoa dan memohon kepada Tuhan agar diberikan asesor yang baik hati, yang bijaksana dalam memberikan penilaian portofolioku. Aku tahu apapun hasilnya nanti adalah yang terbaik Tuhan berikan kepadaku, sekalipun aku gagal, aku harus siap menerimanya. Aku percaya bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera. Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik, aku sudah membuat deskripsi diri sebaik mungkin dan aku tidak pernah melihat/membaca deskripsi diri orang lain apalagi menirunya, dan aku percaya lembaga/instansiku, teman-teman sejawat serta para mahasiswaku sudah melakukan tugas mereka dengan baik. Aku hanya berharap padamu Tuhan, amin...
Persiapanku Dalam Menghadapi Serdos
Sekalipun banyak rekan-rekan dosen yang gagal serdos, dengan semangat akupun menyiapkan persyaratan yang dibutuhkan untuk serdos diantaranya menyiapkan dokumen -dokumen yang diperlukan misalnya photocopy ijazah S1 dan S2 dan transkrip yang sudah dilegalisir, SK kepangkatan serta SK impassing. Selain dokumen tersebut aku juga sibuk membongkar arsip- arsipku sehubungan SK mengajar, sertifikat pelatihan, sertifikat seminar, sertifikat pengabdian masyarakat, piagam penghargaan serta jurnal-jurnalku. Aku sungguh sangat sibuk mempersiapkannya. Sekalipun masa kerjaku menjadi dosen baru 5 tahun (maklum selama 10 tahun lebih aku berkarier sebagai accounting staff diberbagai perusahaan) aku sangat antusias dalam membuat Portofolio Deskripsi Diriku, aku sangat menikmati sekali membuatnya. Terkadang satu point sudah selesai , kuhapus lagi kuganti dengan kata-kata yang enak dibaca, nah disini peranan suami dan kedua putriku sangat berarti, terkadang mereka berkomentar" Mah bahasanya kog kayak gitu, sebaiknya kayak gini dong", hehehe sangat menyenangkan sekali sehingga tak terasa mengerjakan satu point saja yang hanya minimal 150 kata hingga dini hari. Aku tidak mau membaca contoh-contoh DD yang ada di web karena aku takut terpengaruh sehingga menjadikan DDku mirip.Aku membuat DDku dengan penuh cinta, seperti cintaku kepada profesi Dosen yang kupilih sebagai bentuk pengabdianku kepada bangsa dan negara. Aku sudah mengikuti test di PLTI sekalipun nilainya belum memuaskan hatiku yang mana TKDA mendapat nilai 3 serta TOEP mendapatkan nilai 4, tapi aku sadar diri bahwa usiaku yang nyaris setengah abad membuat kecepatan berpikirkupun menurun dibanding ketika aku mengikuti test ini saat berumur 33 tahun ketika test masuk S2 Undip yang memperoleh skor tinggi. Walaupun begitu aku tidak putus asa karena aku masih memiliki pengharapan lewat portofolio Deskripsi Diriku , selain itu juga aku selalu berdoa semoga kelak mendapatkan Asesor yang baik hati serta tidak pelit memberikan nilai. Aku berharap agar ujian serdosku langsung lulus dan tidak perlu mengulang. Semoga Tuhan memberkati semua usahaku ini. Amin......
Pengalaman Membuat SIM di Jakarta
Pada tanggal 28 Juli
2015 aku sengaja berangkat pagi-pagi sekali ke kantor SAMSAT SIM Daan Mogot untuk
membuat SIM C maklumlah SIMku sudah 2 tahun kadaluarsa alias udah mati.Jam 8.00
aku sudah tiba diantrian depan untuk cek kesehatan mata, nah disini aku harus membayar
Rp 25.000,- untuk cek kesehatan mata ,
tidak lama menunggu gilirankupun tiba agar membaca beberapa huruf suasananya persis
ketika kita berada di toko kacamata atau dokter mata. Nah setelah itu akupun
mengantri lagi di loket asuransi disini akupun membayar yaitu sebesar Rp
30.000,- gak lama disini akupun menuju Bank BRI untuk membayar biaya pembuatan SIM A sebesar Rp 100.000,- nah setelah itu akupun
mendaftar diloket SIM C dan kemudian akupun menuju ke ruangan ujian teori yang
berada di lantai 2 yang komputerisasi maklum mataku sudah plus gak nyaman
dipakai buat yang manual yang masih menggunakan pensil 2B. Akupun langsung
duduk di depan komputer, kemudian mengklik soal SIM C dan timer waktupun mulai
berjalan mundur yang dimulai dari hitungan 15 menit. Dengan sangat percaya diri
akupun fokus mengerjakan soal demi soal yang mana berisikan 30 soal dalam waktu 15 menit. Aku
mengerjakannya dengan cukup rasa percaya diri maklum aku sudah berkendaraan selama puluhan tahun tapi siapa sangka begitu selesai mengerjakan soal yang ke 30
hasil ujian langsung dapat segera diketahui tanpa harus menunggu dan aku hanya
benar 9 soal saja yang mana syarat dinyatakan lulus teori itu bila benar 21 soal
sehingga akupun sangat terkejut. Kenapa aku bisa gagal teori SIM C teriakku
dalam hati??? Kemudian akupun turun ke loket 5 untuk mengambil hasil dan dinyatakan
boleh kembali lagi mengulang ujian teori 2 minggu kemudian yaitu pada 11
Agustus 2015.
Aku masih penasaran, masak
iya aku gagal teori SIM C, kemudian masih di Samsat akupun sibuk mencari info
apakah ada biro jasa yang mau membantuku maklum pengalamanku mengurus SIM di 2
kota besar di Jawa Tengah sangat mudah yaitu hanya datang pada saat photo dan
sidik jari saja tanpa pernah melakukan ujian teori dan praktek. Akupun sibuk
menelpon kakak sepupu yang bersuamikan mantan wakapolda, alih-alih membantu
atau memberi jalan keluar, kakak sepupuku malah menyarankan pakai biro jasa
saja dan dia akan membiayainya. Akupun mulai mendekati beberapa pria yang penampilannya
seperti biro jasa/calo , tetapi mereka mengatakan sekarang sudah tidak bisa
lagi karena banyak KPK melakukan penyamaran ihhh…serem ya!! Akupun pulang
dengan kecewa , malamnya akupun mulai searching di internet segala web, blog yang
berhubungan dengan kata soal ujian SIM aku buka, aku baca termasuk juga UU
lalu lintas , perda busway , semuanya aku lahap. Web ntmc , web lantas polri aku baca berulang-ulang kali, serta rambu-rambu
lalulintas mulai dari rambu peringatan, rambu larangan,rambu petunjuk aku
hapalkan dengan baik. Pokoknnya aku mempersiakan diri dengan sungguh-sungguh ,
setelah 3 hari aku belajar soal-soal SIM pada tanggal 31Juli 2015 aku dan
putriku berangkat lagi ke Samsat untuk membuat SIM A maklum masih dengan masalah yang sama yaitu SIM A ku sudah kadaluarsa
alias mati 2 tahun, sedangkan anakku ingin membuat SIM A karena sudah selesai kursus stir dan sudah
berusia 17 thn . Prosesnya sama persis ketika membuat SIM C hanya berbeda
di besar biayanya saja. Setelah membayar
test kesehatan mata Rp 25.000,- asuransi Rp 30.000,- serta biaya pembuatan SIM A sebesar Rp 120.000,-
aku dan anakkupun menuju loket SIM A dan disuruh ke ruangan ujian teori online
yang berbeda dengan ruangan komputerisasi ketika aku ujian teori SIM C, aku juga heran kenapa ruangan ujian teori Sim A
berbeda dengan ujian teori Sim C
ketika aku menanyakan kepada petugas dijawab bahwa soal-soal online
adalah sama untuk
seluruh Indonesia sedangkan komputerisasi tidak sama untuk seluruh
Indonesia. Makanya ketika diloket kita harus memberitahu petugas loket
bahwa kita tertariknya ujian secara komputerisasikah, atau secara
onlinekah atau secara manualkah ujian teorinya. Jelas aku lebih
tertarik secara online karena soalnya sama seluruh Indonesia tentu lebih
mudah ya kan?? Sayangnya
aku dan anakku duduknya sangat berjauhan sepertinya pak polisinya tahu
kalo
kami ibu dan anak sehingga duduknya dijauhkan (hahaha takut kita nyontek
ya pak
polisi). Kali ini aku sangat percaya diri maklum persiapanku lebih siap
dibanding ketika membuat SIM C kemarin dan benar saja dugaanku ketika
aku
mengakhiri nomor 30, Jumlah yang benarpun langsung keluar yaitu 23
benar. Oh….Puji
Tuhan kata itu langsung keluar dengan keras dari mulutku, aku
bener-bener gak
nyangka kalo aku bisa benar 23 soal , padahal aku mendengar yang ujian
serentak
denganku mayoritas tidak lulus semua. Hebatnya lagi anakku juga
langsung lulus
dengan benar 21 soal. Kami berdua pun melangkah dengan hati riang menuju
loket
ujian praktek. Karena jam ibadah shalat
Jumat kami berduapun menunggu selama satu jam di kantin. Disana kami mendengar
bahwa ternyata banyak sekali bahkan tak terhingga orang baru lulus ujian teori setelah mencoba 5
sampai 6 kali, wah-wah luar biasa ya membuat SIM di Jakarta,??.. wah masak iya
harus membolos sampe 6 kali? , ini aja karena libur semester aja punya waktu , tapi mau gimana lagi aku gak tahu siapa yang
dapat membantu kami. Saat ujian praktek tiba ternyata aku dan anakku harus
melakukan mundur zigzag, dgn syarat patok harus dilewati satu demi satu hingga
tiba diujung dan tidak boleh tersenggol/jatuh
wah apa aku bisa ya…? Mengingat aku belum pernah menggunakan mobil avanza,
maklum dari dulu mobil kecil terus. Dan benarlah kekhawatirankupun terjadi,
ketika aku test mundur zigzag ada patok yang terlewat jadi aku melewati 2 patok
sekaligus. Hasilnya akupun tidak lulus ujian praktek , begitu juga dengan
anakku karena mesinnya mati mendadak Kami berduapun keluar dengan tubuh lunglai
dari lapangan praktek dan akan kembali lagi mengulang 14 hari kemudian. Aku
menyemangati anakku kubilang kalo anakku itu hebat karena hanya melakukan satu
kali aja ujian teori langsung lulus yang
mana banyak orang-orang harus mengulang
sampai 5-6 kali baru lulus ujian teori. Anakku setelah kuhibur, hatinya riang
kembali.
Tak terasa hampir 2 minggu
aku mempersiapkan diri dengan baik dengan berlatih soal-soal SIM yang ada di
internet, semuanya aku hapal dengan baik.
Targetku harus lulus karena aku
tidak mau mengulang banyak-banyak. Dan tepat pada tanggal 11 Agustus aku pun
nongol kembali di samsat dan langsung ke ruang ujian teori manual. Sebenarnya
aku lebih suka soal –soal komputerisasi karena kemungkinan kelirunya sangat
kecil. Selain itu suasana ujian komputerisasi jauh lebih tenang dibanding
dengan ujian manual. Ada 6 tipe soal ujian teori manual dan kita
bejo-bejoan/untung-untungan dan akhirnya akupun mendapat soal tipe kesatu
Singkat kata aku berhasil mendapatkan score 24 nggak nyangka banget aku. Gak
sia-sia aku setiap malam berjam-jam browsing internet. Akupun segera menuju
ujian praktek SIM C. Soal ujian praktek
SIM C yaitu kita harus membuat angka 8
tanpa harus menurunkan kaki . Kaki kiri hanya
diperkenankan turun sebanyak 3 kali saja. Bila lebih dari 3 kali maka akan
tidak lulus ujian prakteknya.Ajaibnya Tuhan, maka akupun lulus ujian Praktek
dengan hanya menurunkan kaki satu kali saja. Hehehe maklum terbiasa ngebut
ketika kuliah di Semarang. Selanjutnya tak sampai 5 menit akupun perphoto dan
sidik jari, kemudian akupun membawa
pulang SIM C dengan hati riang. Tugas yang masih mengganjal di hati adalah aku akan
mengikuti ujian praktek SIM A beserta
anakku. Tapi point penting yang dapat
kuambil disini adalah bahwa bila SIM udah hampir habis/mati maka segeralah mengurus perpanjangan, jangan
menunda-nunda nanti malah kelupaan. Dan kalo KTP kita sudah berpindah kota/kabupaten maka mendingan
kita mengurus mutasi SIM daripada membuat
SIM baru karena sangat susah sekali lulus ujian teori dan praktek, banyak yang
lulus teori ataupun praktek setelah mengulang ujian masing-masing 6 kali jadi harus bolak-balik Samsat
sekitar 12 kali. Inilah pengalamanku yang mana untuk mendapatkan SIM C aku
harus ujian teori sebanyak 2 kali serta ujian praktek sebanyak satu kali dengan total biaya hanya Rp 155.000,-. Begitu
juga dengan SIM A hanya sekali saja ujian teori serta ujian praktek sim A akan mengulang kembali
pada tanggal 14 Agustus mendatang dan akupun berharap aku dan
anakkupun dapat lulus pada ujian praktek ulang nanti, Tak
lupa salut buat bapak-bapak polisi yang ada di SAMSAT dengan ucapan selamat
bekerja dengan jujur , semoga dapat dipertahankan. Masyarakat sangat bangga
memiliki polisi-polisi yang jujur.
Pertahankanlah ya pak polisi !!! terimakasih…!
| @ Ulun Danu Beratan-Bedugul |
![]() |
| @ Tanah Lot |
![]() | |
| @Ketapang-Gilimanuk |
| @ Garuda Wisnu Kencana-Jimbaran |
| @ padang-padang beach |
| @ Garuda Wisnu Kencana-Jimbaran |
|
Berwisata Jakarta-Yogya-Bali murah meriah namun mengesankan...!
Liburan telah tiba sungguh
senang rasanya,
hari yang dinantipun tiba pada tanggal 12 Juli 2015 pada pukul 4 sore
aku dan
kedua anakku berangkat dengan menggunakan bis Safari Dharma Raya melalui
agen
bis yang terletak di Kebayoran Lama , dengan fasilitas AC, toilet,
selimut dan bantal sungguh sangat nyaman sekali menggunakan armada ini,
memang sih
harga tiket bis sangat mahal dikarenakan sudah terkena tuslah yang
biasanya Rp
225.000,- karena lebaran menjadi Rp 450.000, tetapi tidak ada pilihan
lain
mengingat semua tiket kereta api dan pesawat sudah tidak ada lagi. Bis
dengan kursi terisi penuh melaju
dengan kencang karena jalan raya pantura belum begitu ramai dipenuhi
para
pemudik. Dengan diiringi musik campursari tampak semua penumpang
betul-betul menikmati perjalanan, akupun sibuk melihat-lihat tabletku.
Begitu juga
dengan kedua anakku yang duduk persis dibelakang kursikupun tampak
terlihat
sedang asyik mendengarkan musik melalui Xiaominya. Teman disebelahku
seorang ibu
tampak tertidur pulas. Sekitar jam 8 malam aku lupa dimana tepatnya
mungkin masih di
sekitar pantura bis berhenti
di rumah makan , seluruh penumpang turun menikmati makan gratis yang
disediakan oleh bis , lumayan sederhana dengan menu nasi dengan
sepotong
ayam goreng, sayur oseng kacang panjang, sambel serta kerupuk cukup
mengenyangkan juga. Kemudian bis melanjutkan perjalanan dan kira-kira
jam tiga
dini hari dekat perbatasan Kendal bis berhenti di sebuah rumah makan
untuk makan
sahur, berhubung aku dan kedua anakku tidak berpuasa maka kamipun tidak
turun dari bis dan melanjutkan tidur kami. Tepat pukul 6.00 pagi kami
pun tiba di terminal Jombor Yogyakarta, kemudian
dengan menggunakan taksi kamipun tiba di rumah. Dari tanggal 13 Juli
hingga 15 Juli
2015 disaat suamiku masih sibuk bekerja di kantor, aku benar-benar
menggunakan waktu libur untuk beristirahat melepas kesibukan rutinitas
di
Jakarta, mulai dari bangun siang, membaca novel, nonton video film-film
yang aku sukai, serta menikmati
kota Yogyakarta di waktu sore. Kebiasaan yang paling aku sukai di kota
Yogya adalah
berjalan- jalan disepanjang malioboro sambil melihat barang- barang
yang dijajakan serta melihat aktivitas orang-orang yang ada disepanjang
malioboro baik
penjual ataupun pembeli adalah kegiatan yang sangat menyenangkan.
Setelah capek berjalan-jalan,
akupun menikmati nasi gudek ayam telur beserta teh hangat sambil duduk
lesehan biasanya aku sendirian saja karena suamiku masih bekerja di
kantor sedangkan kedua anakku lebih suka nongkrong di mc.donald
malioboro mall makanan cepat saji plus ice cream ketimbang duduk-duduk
lesehan
makan nasi gudek. Bagiku tak masalah, karena aku sangat menikmati
makanan favoritku ini yaitu nasi gudeg
yogya yang terkenal lezatnya.
Pada tanggal 16 Juli 2015 jam 6.00 pagi dengan mobil toyota avanza aku, suami, serta kedua anakku berangkat
dari rumah Yogya menuju Bali.
Route yang kami lewati adalah Yogya-Klaten-Solo-Palur-Ngawi-Caruban-Madiun-Nganjuk-Kertosono-Jombang-Mojokerto-Krian-Sidoarjo-Surabaya-Porong-Gempol-Bangil-Pasuruan-Probolinggo-Situbondo
-Banyuwangi-Ketapang-Gilimanuk-Bali.
| @ Ulun Danu Beratan |
Berbekal panduan waze dari xiaomi anakku kamipun berharap
tidak tersesat, tapi sayang semua hp yang kami miliki low batt (maklum
fasilitas mobil tidak ada utk ngecas hp) sehingga menyebabkan kami salah jalur yang seharusnya jalur Gempol Malang malah masuk jalur Surabaya tanjung
perak sehingga
membawa kami tersesat berputar-putar
di kota Surabaya selama 3 jam lebih sungguh sangat melelahkan tersesat
di kota besar suatu kota yang tidak kukenal dengan baik sehingga
akhirnya pada pukul 8
malam kami memutuskan menginap di Probolinggo karena sudah sangat letih
sekali. Hotel
tempat kami menginap sangat dekat dengan alun-alun kota Probolinggo ini
sangat
nyaman sekali dengan harga Rp 400.000,-
permalam dengan 2 single bed berukuran besar kami berempat cukup dengan satu
kamar saja ditambah penyejuk ruangan serta air panas serta TV channel menambah
kenyamanan di hotel ini. Esok harinya tanggal 17 Juli 2015 adalah hari Raya
Idulfitri setelah breakfast dengan menu soto
Probolinggo ditambah pergedel kerupuk serta teh hangat, kamipun melanjutkan perjalanan ke Bali.
Di sepanjang perjalanan yang kami lalui terlihat orang-orang saling
bersilaturahmi satu dengan yang lainnya. Tepat pukul 12 siang kamipun tiba di
pelabuhan Ketapang, tidak ada antrian disini sungguh sangat cepat sekali ,
setelah membayar tiket mobil sebesar Rp 148.000,- mobilpun langsung naik ke
kapal feri, mungkin karena bersamaan
dengan jam solat Jumat maka kapal feri tidak begitu ramai hanya beberapa mobil saja
dan 2 bis besar yang ikut menyebrang.
Sekitar sejam kami berada di feri, kami berfoto-foto di atas feri, kemudian
kamipun tiba di pelabuhan Gilimanuk , sangat
senang rasanya menikmati keindahan pulau Dewata apalagi ada 3 perayaan hari besar
keagamaan secara berdekatan yaitu Galungan, Kuningan dan Idul fitri menambah
semarak pulau Bali. Setiap rumah tampak dengan pura yang dihiasi janur begitu
indahnya.
Jam 4 sore kami pun tiba di Kuta, langsung chek
in di sebuah hotel yang sangat dekat dengan pantai Kuta tidak sampai 5 menit
berjalan kaki. Jauh-jauh hari aku sengaja memesan hotel dekat dengan pantai
Kuta secara online mengingat pada tahun 2010 aku pernah ke Bali tetapi tidak
puas menikmati pantai Kuta. Tarif hotel sungguh terjangkau Rp 400.000,-
permalam standard room dengan breakfast aku pesan 2 kamar untuk 3 malam. Setelah
beristirahat kamipun menikmati berjalan-jalan disepanjang Legian hingga larut
malam. Legian sangat ramai sekali, aku asyik melihat turis mancanegara di
sepanjang jalan. Para turis ada yang menikmati makan malam sambil menikmati
musik life di cafe-cafe sepanjang Legian , ada juga yang asyik berbelanja
pakaian-pakaian khas Bali. Suami dan anak-anakku sibuk berbelanja, suami
asyik memilih topi khas bali sedangkan anak-anak sibuk memilih baju-baju pantai
yang akan dikenakan ke pantai esok. Capek berbelanja, setelah makan malam di
salah satu restaurant yang ada di Legian, kamipun pulang ke hotel untuk beristirahat.
Pada tanggal 18 Juli 2015 route kami hari ini
adalah Garuda Wisnu Kencana/GWK di Jimbaran, pantai Padang-Padang dan Tanah Lot. Pada pukul 7 pagi aku bangun sambil menikmati indahnya pantai
Kuta dengan deburan ombak serta pasir putihnya, aku pun menikmati kopi
dan roti bakar terasa nikmat sekali. Sambil
mengobrol dengan turis bule yang menginap di hotel yang sama sungguh
menyenangkan,
hilang sudah semua kepenatan yang dirasakan.
Pada jam 9.00 pagi setelah breakfast kamipun menuju GWK suatu tempat di
Jimbaran yang dekat dengan Universitas Udayana dimana kita bisa
menyaksikan tarian-tarian seperti tari Barong , tari Kecak serta kita
bisa menikmati indahnya patung Wisnu dalam ukuran besar, dengan membayar
tiket masuk sebesar Rp 60.000,- perorang kita dapat menikmati semua
kesenian yang ditawarkan di GWK , setelah puas di GWK kamipun menuju
pantai Padang-Padang.
Karena ini adalah hari kedua lebaran sudah bisa dibayangkan suasana
pantai sangat ramai
sekali. Pantai sangat indah, ombaknya tinggi sekali membuat banyak para
turis
mancanegara berselancar. Suami dan anak-anakku sibuk berphoto-photo di pantai sedangkan aku
asyik menikmati pemandangan laut yang sungguh indahnya , sambil sesekali
berbicara menyapa turis-turis bule untuk melatih bahasa inggrisku ataupun bahasa
jermanku yang masih tingkat pemula( hahaha yang penting percaya diri aja ya kan..). Puas di
pantai padang-padang kami pun melanjutkan perjalanan ke Tanah Lot. Sungguh luar biasa pemandangan di pantai
Tanah Lot. Sambil menunggu sunset kamipun berphoto sambil bermain ombak sangat
menyenangkan sekali. Suami sibuk mengabadikan keindahan alam tanah lot, begitu
juga anak-anak sibuk dengan tongsisnya. Nah akupun asyik dengan berjalan-jalan
di bibir pantai dengan kaki bermain-main ombak
sambil melihat aktivitas orang-orang sekitar. Sunset yang ditunggupun turun
dengan sangat indahnya. Sungguh dasyat ciptaan Tuhan tanah lot sangat indah
sekali ketika sunset, kamipun menikmati makan ikan bakar ditemani sunset,
sungguh makan malam romantis buat keluarga kecil kami.
Pada tanggal 19 Juli 2015 route kami hari ini
adalah wisata belanja ke pasar seni serta ke danau ulundanu beratan Tabanan.
Saya sengaja tidak mengunjungi pantai sanur , pura besakih serta danau
batur/kintamani karena pada tahun 2010 kami sudah ketempat-tempat tersebut jadi
saat ini kami ketempat yang belum pernah kami kunjungi. Perjalanan ke danau
beratan lumayan jauh tetapi terbayar oleh pemandangan pura yang dikelilingi
danau dengan sangat indahnya. Kebetulan ada upacara keagamaan sehingga kamipun
melihat upacara keagamaan dengan penuh antusias dan tidak lupa kamipun
mendokumentasikannya. Sambil menikmati sepoi-sepoi angin danau kamipun sangat
lahap menyantap ayam bakar dengan sambal terasi sangat lezat sekali...yummy…!!!
Pada
tanggal 20 Juli 2015 kamipun cek out setelah
sarapan pagi, sebelum meninggalkan kota Denpasar kami singgah sebentar
untuk
membeli oleh-oleh kacang Bali, pie susu,daster Bali , sarung Bali serta
selimut Bali. Puas berbelanja kamipun melanjutkan perjalanan kami pulang
ke rumah kami
Yogyakarta. Singkat cerita kami pun tiba di Gilimanuk tepat jam satu
siang dan
menyebrang dengan kapal feri dan route yang kami lalui persis seperti
route
kami berangkat hanya saja kali ini kami tidak kesasar hingga ke kota
Surabaya lagi
melainkan langsung ke Sidoarjo dan pada pukul 8 malam kami menginap di
Pasuruan di sebuah hotel yang
masih baru banget dipinggir jalan raya Pasuruan dengan harga Rp
400.000,-
permalam tempat tidur single bed 2 buah dengan ukuran bed sangat besar
dan
cukup utuk 2 orang maka kamipun hanya memesan satu kamar saja. Fasilitas
hotel air panas, penyejuk ruangan serta TV channel serta
breakfast menambah kenyamanan kami menginap di hotel ini.
Pada 21 Juli 2015 pukul 06.00 pagi kamipun
melanjutkan perjalanan kembali ke Yogya setelah sarapan pagi nasi goreng, kamipun
melanjutkan perjalanan dan tidak lupa untuk mampir di Kertosono untuk membeli
oleh-oleh getuk pisang serta tahu kuning. Begitu juga di Madiun mampir membeli
brem Madiun. Perjalanan dari Madiun-Caruban-Ngawi sangat macet sekali , sungguh dipadati oleh
pemudik baik yang menggunakan mobil atau motor, sambil menikmati getuk pisang dan brem perjalanan menjadi tidak
membosankan. Akhirnya setelah melewati kepadatan yang luar biasa dari Madiun
hingga Klaten. Kamipun tiba di rumah Yogya
pada jam 7 malam dengan selamat sentosa tanpa kekurangan sesuatupun, aku percaya kalau semua
itu hanya karena pimpinan dan pertolongan Tuhan saja yang sudah menyertai
liburan kami, liburan yang murah meriah tapi sangat berkesan bagi keluarga
kecil kami. Jadi menurutku liburan keluarga itu tidak mesti harus
mahal yang penting kebersamaannya , seingatku suami hanya mengisi full tank avanza
sebanyak 2 kali , sedangkan hotel sudah aku booking jauh- jauh hari melalui media
online agar mendapat harga murah, tiket feri Rp 148.000,- sebanyak 2 kali dan
sebaiknya menanyakan harga makanan dulu sebelum menikmatinya. Total pengeluaran
kurang dari Rp 10.000.000,- kami sekeluarga sudah dapat berwisata selama 6 hari
Yogyakarta-Bali-Yogyakarta berikut belanja oleh-olehnya. Demikian pengalaman
kami sekeluarga berwisata ke Bali melalui jalan darat murah meriah namun
mengesankan. Good bye my beautiful Bali, terimakasih....!


No comments:
Post a Comment